DENPASAR ADALAH EMBRIO PARIWISATA BALI

Oleh : Aridus

Pemerintah Kota Denpasar akan menyelenggarakan “ Denpasar Festival II “ mulai 28-31 Desember 2009.  Temanya adalah “ Lewat Warisan Budaya Unggulan meraih masa depan yang lebih gemilang “.  Berbagai komponen, khususnya yang bergerak di ranah kebudayaan, kesenian dan arsitektur, baik tradisional maupun kontemporer, termasuk berbagai kreativitas produk unggul buat menyongsong masa depan yang lebih baik, diharapkan ikut berpartisipasi.

Gagasan untuk menyelenggarakan “ Denpasar Festival “ bisa ditebak, bukan untuk ikut-ikutan atau meniru kegiatan serupa  di kota-kota lain di Indonesia maupun luar negeri, namun sebagai upaya responsif terhadap aspirasi sebagian masyarakat yang kian resah.  Hilangnya ruang publik, baik karena digusur kepentingan bisnis maupun perubahan perilaku masyarakat, dikhawatirkan akan menggusur pula warisan budaya dan tradisi leluhur yang pernah mengangkat  nama Bali di forum internasional.  Berbagai sebutan yang pernah disematkan orang asing terhadap Bali serta masyarakatnya akan pupus satu per satu.

Promosi Gratis Untuk Bali

Filem “ Bali-The Last Paradise “ yang diproduksi Barat akhir tahun 1920’an membuat nama Bali mencuat.   Bahkan setelah menyaksikan pemutaran filem tersebut  di sebuah theater di  Hollywood Boulevard, membuat K’tut Tantri, wanita kelahiran Skotlandia berwarga negara Amerika datang ke Bali tahun 1932.  Saking cintanya pada Bali, dia menganggap pulau ini sebagai tumpah darahnya yang kedua.  Wanita bernama asli Muriel Pearson itu adalah seorang penulis, wartawan  yang juga penyiar radio di negaranya. yang kemudian disebut pejuang asli oleh Bung Karno karena kegigihannya dalam revolusi kemerdekaan.  Dia sempat ditahan saat Jepang menjajah Indonesia, lalu memperjuangkan kemerdekaan Indonesia di Australia ketika serdadu NICA menguasai  sebagian republik dari tahun 1946-1949.   Tantri bahkan menolak sogokan seorang Belanda sebanyak 100.000 gulden, yang menghendaki dia berhenti memprogandakan Indonesia di Australia.

Bersama Walter Spies yang tinggal di Campuhan Ubud, Ktut Tantri ikut  menyumbangkan pikiran dalam pembuatan film-film lain tentang Bali, seperti Goena-Goena, Calonarang dan lain-lain yang kian membubungkan nama pulau ini di dunia.    Selain alamnya yang masih asri dan alami, ternyata way of life dan budaya masyarakatnya yang bernafaskan Hindu lah membuat Bali  mendapat berbagai julukan dari orang asing.   Tidak sedikit pesohor Barat datang ke Bali sebelum meletusnya Perang Dunia II, seperti Charlie Chaplin, Cole Porter, Barbara Huton, Noel Coward, juga ilmuwan sosial seperti Margaret Mead dan Gregory Bateson.   Jasa Jose Miguel Covarrubias, seorang pelukis, karikaturis, ethnolog dan sejarawan seni berkembangsaan Meksiko, yang menulis “ The Island of Bali “ dari berbagai sisi pada tahun 1937, semakin memperkuat posisi Bali di peta dunia kepariwisataan.

Berkat propaganda orang asing, khususnya penulis, seniman, wartawan, ilmuwan dan para sineas, di tahun 1920’an -1930’an, menyebabkan nama Bali sempat lebih dikenal daripada Indonesia.    Malah pasca kemerdekaan Indonesia, entah karena  ikatan batin Presiden I Republik Indonesia, Ir.Sukarno yang ibunya adalah wanita Bali atau karena promosi gratis yang dilakukan orang-orang asing yang pernah berkunjung ke Bali di era kolonial Belanda, secara otomatis Bali lebih dikenal sebagai daerah tujuan wisata dibanding daerah agraris.  Bahkan setiap kunjungan kenegaraan kepala negara asing ke Indonesia, pasti diajak ke Bali untuk menyaksikan keindahan alam dan kesenian pulau ini dan sebutan “ The Morning of The World “  adalah julukan yang diberikan PM India, Jawarlal Nehru.  Bila  jadwal kunjungan tamu negara itu singkat, maka tim kesenian dari Bali, khususnya gong kebyar, dikirim ke Jakarta untuk mementas di Istana Negara.

Denpasar sebagai awal pariwisata Bali

Bali berkembang menjadi daerah tujuan wisata modern sejak awal pemerintahan Orde Baru.  Yakni, setelah Hotel Bali Beach Intercontinental Sanur beroperasi tahun 1966, Bandar Udara Internasional Ngurah Rai juga dibuka tahun 1969.  Setelah itu hotel-hotel berbintang bertaraf internasional juga dibangun seperti Bali Hyatt Regency di Sanur, Sanur Beach Hotel, Pertamina Cottage, Kartika Plaza Hotel dan lain-lain.  Juga fasilitas pariwisata lainnya ditambah dan disempurnakan agar sesuai persyaratan kepariwisataan internasional, demi kepuasan dan kenyamanan para wisatawan.    Lalu, diskotik, karaoke, golf course, menyusul rekreasi laut seperti scuba diving, trawling, surfing, para sailing dan lain-lain menyusul.

Setelah  orientasi  pariwisata tergiring ke kawasan pantai, paska berdirinya  hotel-hotel berbintang lima di kawasan Nusa Dua, ditambah rampungnya jalan by-pass Ngurah Rai, masyarakat atau praktisi pariwisata  nyaris melupakan sejarah.  Akibatnya, Denpasar yang merupakan embrio kelahiran pariwisata di Bali seperti dilupakan.   Bali Hotel yang merupakan cikal bakal pariwisata yang berdiri sejak 22 Agustus 1927, peninggalan zaman kolonial Belanda, tak ubahnya seperti losmen atau hotel kelas melati, karena cuma wisatawan domestik, khususnya murid-murid sekolah dari luar daerah yang menginap di sana.  Itu pun tatkala liburan sekolah atau sehabis kenaikan kelas dan ujian akhir.

Padahal Bali Hotel  yang selanjutnya bernama Natour Bali Hotel dan kini Inna Bali Hotel, pernah dinyatakan sebagai “ the first internasional hotel in Bali “.   Itu karena semua wisatawan atau tamu pemerintah, sejak zaman penjajahan hingga kemerdekaan selalu diakomodasi di hotel tersebut.    Bung Karno dan Bung Hatta pun, bila berkunjung ke Bali kalau tidak menginap di Istana Tampaksiring  akan menginap di Bali Hotel. Presiden dan Wakil Presiden I RI tersebut  memiliki kamar khusus, yang dulu bernomor 50 untuk Bung Karno dan nomor 55 untuk Bung Hatta, yang berlokasi di sebelah timur Jalan Veteran Denpasar.   Di antara dua blok bangunan itu terhampar halaman berumput luas, yang di tengah-tengah berdiri sebuah pendopo buat pertunjukan kesenian, yang selesai dibangun tahun 1929.

Para pesohor Barat, yang berkunjung ke  Bali  di  zaman penjajahan Belanda, di antaranya Charlie Chaplin juga menginap di Bali Hotel.  Untuk mengenalkan kesenian tradisional Bali, di pendopo hotel tersebut dipentaskan  Tari Legong dan Janger secara bergilir.  Sekeha Gong yang mengiringi Tari Legong yang paling sering mementas di pendopo hotel itu adalah  Sekeha Gong Belaluan Sadmerta, menyusul Sekeha Gong Geladag.  Sedangkan Sekeha Jangernya adalah Sekeha Janger Kedaton dan Bengkel.  Tidak terlalu berlebihan bila keempat grup kesenian tradisional tersebut pantas disebut sebagai  penyambung dunia lama dan dunia baru dalam kebudayaan, sekaligus pelopor pariwisata Denpasar.  Sebab kehadiran mereka secara rutin di pendopo Bali Hotel sebagai duta seni, menyebabkan kedatangan wisatawan dan tamu Negara ke Bali mendapat kesan, sehingga saat pulang ke negeri masing-masing membawa pesan.

Lokasi Bali Hotel yang dekat titik  nol kota Denpasar, yang dulu dikenal dengan sebutan “ lonceng “ karena ada jam besar di tengah-tengah perempatan, kemudian di tahun 1970’an diganti dengan Patung Catur Muka, merupakan posisi yang pas buat pengembangan pariwisata.  Karena, ke barat dalam hitungan sepuluh menit berjalan kaki, wisatawan sampai ke kompleks pertokoan pertama di Denpasar,yang menjual serba neka  barang, yang kala itu dianggap produk modern.   Dari alat-alat keperluan rumah tangga, pakaian, arloji hingga mesin jahit dan barang-barang elektronik dijual di sini.  Kompleks pertokoan yang diberi nama sesuai nama jalannya, dulu dikenal sebagai “ the main street of Denpasar, yakni Kompleks Pertokoan Gajah Mada.     Sebagian besar tokonya dimiliki warga keturunan Tionghwa.

Belok kiri atau ke selatan dari perempatan kedua Jl. Gajah Mada,  wisatawan akan melihat  toko-toko yang khusus menjual bermacam-macam tekstil.  Para pemilik toko-toko ini, sebagian besar adalah warga keturunan Arab dan India, sehingga kawasan tersebut dinamakan “ Kampung Arab “.  Di malam hari di Jalan Sulawesi yakni nama jalan sepanjang toko-toko  itu, digelar pasar malam yang disebut Pasar Senggol, khusus menjual makanan tradisional, dimulai sejak matahari tenggelam hingga pukul  24.00 tengah malam.   Setelah Pasar Senggol tutup, di sebelahnya ada pasar tradisional terbesar di Bali, yang para  pedagangnya mulai berdatangan sejak dini hari, khususnya pedagang sayur-mayur, daging dan beras.   Meskipun disebut “ Pasar Badung “, baik pedagang maupun pembelinya tidak melulu orang-orang Badung ( nama wilayah sebelum dikembangkan menjadi kota administratif Denpasar dan kabupaten Badung ) melainkan datang dari seluruh Bali.  Khususnya mereka yang memerlukan keperluan dalam jumlah besar buat kebutuhan upacara, mereka pasti membelinya di Pasar Badung.  Karena pasar ini dibuka sepanjang hari, beda dengan pasar-pasar yang ada di kabupaten-kabupaten.

Ke arah timur dari lonceng, selain melihat rumah jabatan dan kantor Gubernur Bali, wisatawan akan tiba di Museum Bali.  Museum yang resmi dibuka tahun 1932 ini, menyimpan berbagai barang dan artefak kuno, yang dipilih para pakar yang dituntuk pemerintah kolonial Hindia Belanda seperti Dr. W.F. Stuterheim, G.I. Graider, Dr. R. Goris, G.M. Hendrikss dan pelukis Walter Spies.  Namun bagi wisatawan yang tertarik melihat museum lukisan, dengan naik taksi yang pangkalan awalnya cuma ada di Bali Hotel, bisa menuju pantai Sanur, dimana mereka bisa menyaksikan Museum Lukisan Le Mayeur.   Pelukis asal Belgia yang beristrikan seorang penari terkenal kelahiran Banjar Kelandis Denpasar bernama Ni Polok, menetap di Bali sejak tahun 1932 dan menjadikan rumahnya  sebagai museum.

Selain Pasar Badung, berjalan kaki dari Bali Hotel ke arah utara, kurang dari sepuluh menit, wisatawan akan menjumpai Pasar Satria.  Pasar ini tidak sebesar Pasar Badung dan dibuka cuma setengah hari, yakni sejak pukul 06.00 hingga pukul 13.00.   Namun sepanjang  Jalan Veteran, nama jalan dimana Bali Hotel terletak, ada beberapa toko yang menjual hasil kesenian di antaranya Toko Kesenian Klungkung, Rembang, Bali, Kita, Nuratni, Laku, Oka dan Suci.   Fenomena ini seiring perkembangan pariwisata Bali di tahun 1970’an bermetamorfosa menjadi artshop dan gallery, yang tumbuh bagai cendawan di musim hujan di kawasan Gianyar.  Selain toko-toko kesenian tersebut, di sisi utara dan barat Bali Hotel  berdiri kios-kios kecil, juga menjual barang-barang kesenian dengan harga lebih murah.   Kalau para pedagang toko kesenian membeli hasil seni para seniman ukir ternama dari kawasan Panti, Belong, Balun,Gerenceng dan Sesetan ( juga ada dari Mas dan Bona ), para dagang  di kios-kios membelinya di pasar pagi.  Pasar pagi pertama di Bali berlokasi di Banjar Belaluan Denpasar, dimana seniman pemula dari beberapa desa di Kabupaten Gianyar menjual produk mereka langsung pada para pedagang di kios-kios.

Lahirnya Pasar Seni di Sukawati dan Guang, Gianyar,paling tidak terinspirasi dari kios-kios di sekitar Bali Hotel pada tahun 1960’an-1970’an.  Kemudian munculnya para pedagang acung, nyaris di seluruh obyek wisata di Bali, bisa jadi diawali dengan kebiasaan serupa yang dulu dilakukan di Denpasar.  Sebab kedatangan kapal pesiar yang sebelumnya berlabuh di  lepas pantai Buleleng, yang karena ombak tidak terlalu bersahabat lalu dipindahkan ke Benoa, Denpasar.   Kemudian para wisatawan yang jumlahnya ratusan tersebut, sering didrop di Bali Hotel dengan sistem shuttle,  khususnya yang tidak membeli tour ke obyek-obyek wisata  di Bali.   Mereka yang mengambil tour pun biasanya berhenti beberapa jam di Denpasar, untuk melihat suasana kota, sebelum balik menuju pelabuhan Benoa.  Saat duduk sembari minum di lobby dekat jalan kawasan barat Bali Hotel atau menuju kios-kios dekat hotel itulah, biasanya para pedagang acung mengerumuni mereka.

Angkutan wisata , khususnya taksi, pangkalan pertamanya ada  di Bali Hotel dan cuma beberapa buah yang parkir menunggu muatan di stasiun bus Suci, Denpasar.  Sedan-sedan produk Amerika Serikat seperti Ford dan Chevrolet  buatan tahun 1940’an dan 1950’an, masih tampak mengangkut turis saat dimulainya pengembangan pariwisata di awal era Orde Baru.  Baru pada pertengahan tahun 1970’an, kendaraan kuno itu lenyap di jalan-jalan, diganti Impala, Bel Air, Dodge dan Byscane buatan  awal tahun 1960’an serta mobil Holden buatan Australia , juga Toyota bikinan Jepang.  Khususnya Bali Beach Hotel Intercontinental mengoperasikan Toyota untuk jenis sedan dan Nissan untuk bus.  Sejak hotel yang merupakan hibah pampasan perang itu beroperasi, sedikit demi sedikit pangkalan taksi terbelah menjadi  tiga di Denpasar, yakni di Bali Hotel, Stasiun Bus Suci dan Bali Beach Hotel di Sanur.   Meski demikian, Bandara Ngurah Rai belum memiliki pool taksi, sedangkan hampir semua wisatawan  yang mendarat di bandara dijemput dengan taksi yang berpangkalan di Bali Hotel, Stasiun Bus Suci dan Bali Beach Hotel sanur.

Dengan fasilitas seperti terurai di atas, Denpasar berhak menyebut dirinya sebagai pionir  pariwisata di Bali.  Sebab wilayah ini paling awal memiliki hotel yang dikategorikan berstandar internasional, fasilitas rekreasi pariwisata, transportasi dan yang paling penting tourism minded masyarakatnya.  Artinya, kesiapan sikap mental masyarakat menerima kehadiran wisatawan.

Merebut yang hilang

Perkembangan pariwisata Bali dalam tiga dekade ini merupakan kejutan besar bagi warga Denpasar.  Khususnya mereka yang mengikuti perkembangan tersebut sejak awal.  Setelah fasilitas pariwisata menyebar ke seluruh wilayah Bali dengan dalih pemerataan, perkembangan termutakhir justru memusat ke tangan-tangan pemilik modal, yang notabene bukan berleluhur di Bali.  Orang Bali asli yang dikatakan sebagai pendukung budaya, dimana budaya justru menjadi daya tarik utama wisatawan datang ke Bali, malah kebanyakan menjadi penonton orang-orang yang mengeruk keuntungan dari pariwisata.  Andaipun ikut berkecimpung, mereka hanya menjadi buruh untuk sekadar bisa hidup   Bahkan tidak sedikit dari mereka yang statusnya mirip kuli kontrak di zaman penjajahan yang menerapkan sistem kultur stelsel.  Nama sistem itu kini adalah “ out sourcing “ , dimana orang bisa kehilangan pekerjaannya  karena kontrak kerja tidak diperpanjang oleh berbagai alasan.   Bahkan mereka tidak menerima tunjangan apa pun, selain gaji.

Ironisnya hampir tidak ada pengusaha sukses pariwisata yang berpikir bahwa pariwisata Bali bisa berkembang dan bertahan di tengah-tengah hantaman berbagai krisis, termasuk dua kali ledakan bom teroris, adalah berkat langgengnya  budaya Bali.  Juga nyaris tidak ada yang membayangkan, bila pendukung budaya Bali mati kelaparan, apakah pariwisatanya yang berbasis budaya masih bisa bertahan ?   Juga kalau pendukung budayanya, tidak mampu lagi menyelenggarakan upacara agama karena terlalu miskin, mungkinkah budaya bisa hidup tanpa nafas ?   Nafas budaya Bali adalah agama Hindu yang penuh upacara. Sebab agamalah yang mempertahankan tradisi, sedangkan tradisi merupakan komponen budaya dan budaya adalah daya tarik utama pariwisata Bali.  Kalau cuma mengandalkan keindahan alam, agaknya daerah lain tidak kalah indah dari Bali.

Orang Denpasar tentunya tidak mau mengikuti jejak orang-orang Betawi, yang terpinggirkan, malah kehilangan identitasnya sebagai orang Betawi.  Lewat Denpasar Festival  yang diniatkan bisa terselenggara setiap tahun, diharapkan mereka bisa merebut kembali apa yang hilang  dari tangan mereka.  Sebab leluhur mereka yang pernah menciptakan budaya unggulan bernafaskan Hindu, mampu memikat  wisatawan berbondong datang.  Berkat local genious yang diturunkan secara genetik, meskipun Denpasar Festival II hanya berlangsung tiga hari ( 28-31 Desember 2009 ), semoga mampu memotivasi dan menginspirasi seluruh masyarakat yang hadir untuk berkarya, mencipta dan berinovasi seperti leluhur mereka dulu.  Mudah-mudahan festival ini tidak saja hanya making news, melainkan mencerahkan  masyarakat Denpasar di segala segi, agar tema meraih masa depan yang lebih gemilang, menjadi kenyataan.

4 Comments

Filed under Article

4 Responses to DENPASAR ADALAH EMBRIO PARIWISATA BALI

  1. mertha

    pencerahan yang sangat menarik. saya sendiri sebagai warga Bali dan tinggal agak lama di denpasar tidak pernah tahu tentang hal ini. pepatah yang mengatakan “stop and smell the rose” sungguh mengena. keep on moving denpasar! i’m with you!

  2. Pingback: TONGGAK ITU TELAH DIMULAI LEWAT EBULLIENCE « Denpasar Ebullience

  3. Pingback: EBULLIENCE MERANGKUM SEMANGAT BARU DINAMIKA KOTA DENPASAR « komunitas kreatif bali

  4. Pingback: Ebullience Simbol Semangat Membangun Kota « Desain Grafis Indonesia

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Connecting to %s