‘Ebullience’ marks the convergence of creative minds

I Wayan Juniartha ,  The Jakarta Post ,  Denpasar   |  Thu, 01/14/2010 11:30 AM  |  Surfing Bali

For years, Denpasar, its people and administration, has promoted its shared vision of becoming the island’s role model for a creative and multicultural society.

The vision speaks about a city that optimistically embraces the best elements offered by Western modernity and at the same time passionately conserves and develops its rich traditional heritage.

The vision found its first solid manifestation recently in the public New Year’s celebration named the “Denpasar Festival”.

A significantly large group of Denpasar artists and creative workers, hailing from different artistic backgrounds, joined forces to create a multimedia artwork in Puputan Badung Square, the city’s most popular public space. Continue reading

Leave a Comment

Filed under Article

EBULLIENCE PARADE SCENES

Rabu 30 Desember 2009 mulai jam 10 malam Ebullience Parade mulai menampilkan Art Installation Jango Pramartha “Tri Murti sosiologi masyarakat tradisional Bali” dengan 3 bidang kanvas yang ditaruh persis di tengah wahana Ebullience. Sang kartunis yang juga melukis ini mulai dengan garis-garisnya membentuk simbol simbol hingga akhirnya menambahkan benda-benda yang kita kenal sehari-hari sebagai keperluan adat dan aktifitas ekonomi pada kanvas. Continue reading

Leave a Comment

Filed under Event

EBULLIENCE PARADE MENGUNDANG

INVITATION

Ebullience Parade
Rabu 30 Desember 2009
Mulai jam 20.00 wita
Di Art Installation Ebullience Alun-alun Denpasar

Menampilkan space-sound-visual-motion:
1.    Jango Pramartha: Art Expression: Tri Murti sosiologi masyarakat tradisional Bali
2.    I Wayan Gde Yudane: Soundscape: How are you? & I Love You
3.    Ridwan Rudianto: Video: Remenisaince Drive
4.    Erick Est; Video: Mind
5.    Arsawan: Video: EndekBaleTimbang
6.    SMUN 1 Denpasar: Video: Brainstorming
7.    Kas: Video
8.    Marlowe Bandem: Music: Ebullience DancePasar
9.    Ayip: Visual: Dd-Ee-Nn-Pp-Aa-Ss-Aa-Rr

Leave a Comment

Filed under Event

TONGGAK ITU TELAH DIMULAI LEWAT EBULLIENCE

Ebullience lahir dari kesempatan yang diberikan oleh Pemkot Denpasar dalam acara Denpasar Festival yang mengusung tema “Embracing Tomorrow” atau “Menyongsong Masa Depan gemilang” yang direspon utamanya oleh para seniman Denpasar menjadi sebuah “energy” yang berdimensi semangat, mempersatukan dan menjadi simbol kebersamaan yang kuat dalam membaca dinamika kota Denpasar.

Wujud art installation merangkum 4 hal yaitu Space, Sound, Visual dan Motion  merupakan ekspresi kolaborasi yang jumlah totalnya terdiri dari 24 orang seniman berbagai bidang mulai dari siswa siswi SMU, mahasiswa hingga artis profesional. karya ini membingkai semangat peserta kolaborasi dalam pemaknaan Menyongsong Masa Depan gemilang. Continue reading

1 Comment

Filed under Event

EBULLIENCE OPENING SCENES


All Photographed by Laksana Eka Lanus

Leave a Comment

Filed under Event

DENPASAR: MENJABAT KONTRA KULTURA, MENUJU KOSMOPOLITAN

Oleh: Rudolf Dethu

Denpasar kini adalah Denpasar yang (harus) berani. Denpasar mutakhir adalah Denpasar yang (wajib) kaya makna, terbuka, puspawarna.

Ayo kilas balik dulu. Di kala remaja, di pertengahan tahun 80-an, saya adalah termasuk satu di antara banyak anak muda yang minim minat, lesu gairah, paceklik selera, pada so-called “kebudayaan”. Setiap kali bersinggungan dengan kata tersebut, gambar yang instan muncul di kepala adalah sebentuk wujud statis, membosankan, kisah reyot masa lalu, melenceng dari apa yang terjadi sekarang. Alias kuno. Saya—beserta berlimpah anak sebaya lainnya—sebisanya menghindari keterlibatan dengan akitivitas antik non progresif itu. Continue reading

4 Comments

Filed under Article

EBULLIENCE: BAHTERA BUDAYA DENPASAR

Oleh: Marlowe Bandem

“…Menghadapi perubahan-perubahan yang terus-menerus dari waktu ke waktu, kita perlu mengetahui lebih mendalam tentang dasar-dasar inti kebudayaan. Inti dasar adalah ide sentral yang memberikan pengaruh pada bentuk luar yang dapat berubah-ubah tetapi tidak terlepas dari ide sentralnya. Hal ini dapat dilaksanakan melalui reinterpretasi, reintegrasi, dan adaptasi sehingga perubahan itu tidak memperlemah tradisi, justru lebih memperkuat, karena tetap dijiwai oleh ide sentral itu”

Prof. Dr. I.B. Mantra (1928 – 1995)
Budayawan, Gubernur Bali (1978 – 1988)

KEMBALI KE ALUN-ALUN DEMI MENGILHAMI INOVASI

Sebagai sebuah perayaan kekayaan ekspresi dan kreativitas yang lekat dengan Kota Denpasar, Denpasar Festival yang berlangsung dari tanggal 28 s/d 31 Desember 2009 menampilkan berbagai agenda yang mengacu pada social milieu kota Denpasar yang terbuka, multikultur, multidimensi, dan menjadi gerbang bagi keberadaan Bali sebagai entitas kebudayaan yang unik dan daerah tujuan wisata terkemuka di dunia. Continue reading

5 Comments

Filed under Article

DENPASAR ADALAH EMBRIO PARIWISATA BALI

Oleh : Aridus

Pemerintah Kota Denpasar akan menyelenggarakan “ Denpasar Festival II “ mulai 28-31 Desember 2009.  Temanya adalah “ Lewat Warisan Budaya Unggulan meraih masa depan yang lebih gemilang “.  Berbagai komponen, khususnya yang bergerak di ranah kebudayaan, kesenian dan arsitektur, baik tradisional maupun kontemporer, termasuk berbagai kreativitas produk unggul buat menyongsong masa depan yang lebih baik, diharapkan ikut berpartisipasi.

Gagasan untuk menyelenggarakan “ Denpasar Festival “ bisa ditebak, bukan untuk ikut-ikutan atau meniru kegiatan serupa  di kota-kota lain di Indonesia maupun luar negeri, namun sebagai upaya responsif terhadap aspirasi sebagian masyarakat yang kian resah.  Hilangnya ruang publik, baik karena digusur kepentingan bisnis maupun perubahan perilaku masyarakat, dikhawatirkan akan menggusur pula warisan budaya dan tradisi leluhur yang pernah mengangkat  nama Bali di forum internasional.  Berbagai sebutan yang pernah disematkan orang asing terhadap Bali serta masyarakatnya akan pupus satu per satu. Continue reading

4 Comments

Filed under Article

KIPRAH BR. BELALUAN DAN BR.BELALUAN SADMERTA

Oleh: Aridus

Banjar Belaluan dan Banjar Belaluan Sadmerta adalah dua nama kelompok komunitas tradisional di Denpasar yang eksistensinya setua usia ibukota Pulau Bali ini.  Lokasi kedua banjar yang dulunya satu kemudian pecah jadi dua tersebut, paling dekat dengan episentrum atau titik nol kota Denpasar, yang dulu terkenal dengan sebutan “Lonceng “ karena terpancangnya jam besar bertiang di situ.   Kemudian di  tahun 1970’an weker besar itu diganti dengan patung Dewa Brahma berwajah empat, sehingga titik nol itu sekarang dikenal dengan sebutan “ Catur Muka “.

Karena perubahan sistem dan mekanisme pergaulan sebagai dampak arus globalisasi lima dimensi, yakni ethnis, finans, idea, media dan teknis yang bermuara pada pergeseran kepentingan, nama kedua banjar tersebut di atas, kini agaknya kurang dikenal generasi baby busters.  Kendati pun mereka mengaku lahir dan besar di Denpasar.   Generasi yang lahir pasca tahun 1960’an ini, paling banyak mengalami serbuan budaya postmodernisme ( Postmo) yang diantarkan teknologi informasi dan sibernetika.  Postmo merupakan genre budaya yang menafikan sejarah dan anti narasi besar. Continue reading

Leave a Comment

Filed under Article